Jumat, 30 November 2007

Anggrek

Anggrek merupakan sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hiasan. Tumbuhan berbunga mulai muncul pada Zaman Kapur. Tanaman berbunga pertama adalah angiosperma. Dia merupakan bunga kebangsaan bagi negara Singapura dan Thailand. Bunga Anggrek Bulan adalah bunga pesona bangsa Indonesia.

Anggrek sering dipergunakan sebagai simbol dari rasa cinta, kemewahan, dan keindahan selama berabad-abad. Bangsa Yunani menggunakan anggrek sebagai simbol maskulinitas , sementara bangsa Tiongkok pada jaman dahulu kala mempercayai bahwa anggrek sebagai tanaman yang mengeluarkan aroma harum dari tubuh Kaisar Tiongkok.

Pada pertengahan zaman, anggrek mempunyai peran penting dalam pengembangan tehnik pengobatan menggunakan tumbuh-tumbuhan. Penggunaannya pun meluas sampai menjadi bahan ramu-ramuan dan bahkan sempat dipercaya sebagai bahan baku utama pembuatan ramuan ramuan cinta pada masa tertentu. Ketika anggrek muncul dalam mimpi seseorang, hal ini dipercaya sebagai simbol representasi dari kebutuhan yang mendalam akan kelembuatan, romantisme, dan kesetiaan dalam suatu hubungan. Akhirnya, pada permulaan abad ke-18, kegiatan mengkoleksi anggrek mulai menjadi kegiatan yang banyak dilakukan di segala penjuru dunia, terutama karena keindahan dan sisi eksotik dari tanaman ini.

Kumbo Karno

Kumbo karno adalah salah satu tokoh perwayangan Jawa. Hal ini dapat dilihat dari petikan artikel dibawah yang diambil dari salah satu website:
”Pagelaran wayang ini mengambil tema, Kumbo Karno Gugur. Tokoh ini tak lain adalah adik kandung dari Raja Alengka, Dasamuka yang dikenal dalam dalam dunia pewayangan sebagai sosok pemimpin yang lalim. Intinya, Kumbo Karno yang tak sejalan dengan kepemimpinan kakaknya, menghadapi situasi dilematis, ketika negerinya terlibat peperangan dengan kerajaan Astina. Ketika akhirnya Kumbo Karno memutuskan untuk ikut perang, adalah bukan karena membela kakaknya, melainkan sebagai wujud kecintaannya pada negeri yang melahirkannya.
Singkat cerita, Kumbo Karno akhirnya gugur di tangan Hanoman melalui senjata panahnya yang sakti. Tapi nampaknya bukan lakon cerita yang menarik perhatian penonton, tetapi lebih pada duel sang dalang kondang.”

Asal Usul Wayang

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam masyarakat. Wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional dan merupakan puncak budaya daerah.

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini banyak para cendekiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang wayang, diantaranya Hazeu dan Rassers. Dan pandangan dari pakar Indonesia, seperti K.P.A, Kusumadilaga, Ranggawarsita, Suroto, Sri Mulyono, dan lain-lain. Dan menurut para cendekiawan, wayang sudah ada dan berkembang sejak kuna, sekitar tahun 1500 SM.

Wayang yang dalam bentuknya sederhana ialah asli Indonesia. Wayang memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya memiliki sifat ‘Hamot’ ( keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar ) , ‘Hamong’ ( kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai warna yang ada , ‘Hamemangkat

( memangkat suatu nilai menjadi nilai baru. Periodisasi perkembangan budaya wayang juga merupakan suatu hahasan yang menarik.

Bermula zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka tetap dipuja dan dimintai pertolongan. Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut ‘hyang atau dahyang’. Orang bisa berhubungan dengan ‘hyang atau dahyang’ ini melalui seorang medium yang disebut ‘syaman’. Ritual pemujaan nenek moyang ‘hyang’ dan ‘syaman’ inilah yang akhirnya menjadi asal mula pertunjukkan wayang. ‘hyang’ menjadi wayang dan ‘syaman’ menjadi dalang. Sedangkan ceritanya ialah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan ialah bahasa Jawa asli yang masih dipakai hingga sekarang. Jadi, wayang berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia disekitar tahun 1500 SM.

Berjalan dengan seiringnya waktu, wayang terus berkembang samapai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam.

Dalam pewayangan cerita, bermula dari kisah Ramayana yang terus bersambung dengan Mahabrata, dan diteruskan dengan kisah zaman kerajaan kediri. Falsafah Ramayana dan Mahabrata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga diwarnai nilai-nilai agama Islam.

Masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan besar-besaran tersebut, tidak saja terjadi dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relief candi-candi, distilir menjadi bentuk imajinatif seperti sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu sebagai alat penerangan pada pertunjukkan wayang kulit dan juga mempunyai makna simbolik, yaitu memanfaatkan masukan serta pengaruh budaya lain baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang, dan masih banyak lagi.

Asal usul wayang Indonesia menjadi jelas dan mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tidak saja berbeda bentuk serta cara pementasannya, cerita Ramayana dan Mahabrata yang digunakan juga berbeda. Cerita terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang di Indonesia. Keaslian Wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti Wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, kotak dan lain-lain. Kesemuanya itu menggunakan bahasa Jawa asli. Berbeda dengan cempala, yaitu alat pengetuk kotak yang menggunakan bahasa sansekerta. Biasanya wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut ‘basa rinengga’.

Kekuatan utama budaya Wayang ialah kandungan nilai falsafahnya. Wayang yang tumbuh dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan hidup dan dapat terus dilestarikan dalam pertunjukkan wayang.

Memasuki pengaruh agama Islam, kokoh sudah landasan wayang sebagai tontonan yang mengandung tuntunan, yaitu acuan moral budi luhur menuju terwujudnya ‘akhlaqul karimah’. Wayang bukan lagi sebagai tontonan bayang-bayang atau ‘shadow play’, melainkan sebagai ’wewayangane ngaurip’, yaitu bayangan hidup manusia.

Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup ‘sangkan paraning damadi’, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali keribaan-Nya.

banyak ditemui seni budaya semacam wayang yang terkenal dengan ‘puppet show’, namun tidak seindah dan sedalam maknanya sulit menandingi Wayang Kulit Purwa.

Kamis, 15 November 2007

Sekilas tentang Art Deco

Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain. Dalam perjalanannya Art Deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno misalnya dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman Art Deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya, karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tangga, segitiga dan lingkaran terbuka, tetapi mereka kadang masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan figur, tetapi motif-motif tersebut cenderung mempunyai bentuk yang geometris. Komposisi elemen-elemennya mayoritas dalam format yang sederhana.

Asal usul Nama Art Deco

Ungkapan Art Deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema „Les Années 25“ yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional „Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes“ yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco menjadi dikenal dan semakin populer dengan munculnya beberapa artikel dalam media cetak. Pada tanggal 2 November 1966 artikel yang berjudul „Art Deco“ dimuat di The Times, setahun kemudian artikel „Les Arts Déco“ dari Van Dongen, Chanel dan André Groult furniture dimuat dalam majalah Elle. Ungkapan Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku „Art Deco“ karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969. Jadi sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama Art Deco dan menamai seni yang populer di antara kedua perang dunia itu sebagai seni „modern“.

Latar Belakang Munculnya Art Deco

Revolusi Industri
Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, adalah kurun waktu di saat masyarakat dunia diliputi oleh berbagai macam konflik. Konflik-konflik ini muncul sebagai akibat dari Revolusi Industri yang menciptakan pergeseran sosial, berbagai macam pengetahuan dan teknologi baru membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Keadaan sosial masyarakat berubah, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Kekuatan mesin menggantikan tenaga manusia yang sangat terbatas. Apa yang masyarakat lihat dan dengar berubah secara cepat. Barang-barang untuk keperluan hidup sehari-hari mulai banyak diproduksi oleh mesin dan secara massal. Meskipun demikian tidak semua masyarakat menerima dan menyukai barang-barang yang diproduksi oleh mesin, banyak yang masih menyukai hasil kerajinan tangan dengan seni tradisional. Barang-barang produksi mesin tidak seindah hasil kerajinan tangan meskipun harganya tidak mahal tapi tidak banyak peminatnya, sebaliknya barang-barang kerajinan tangan sangat tinggi mutunya, indah dan personal tapi mahal harganya. Revolusi Industri juga membawa perubahan pada Arsitektur. Selama berabad-abad arsitek hanya mengkonsentrasikan karyanya pada bangunan-bangunan ibadah, kastil, istana dan rumah para bangsawan. Setelah adanya Revolusi Industri diperlukan suatu tipologi bangunan yang berbeda dari abad sebelumnya, misalnya, pabrik, stasiun, bangunan perdagangan, bangunan perkantoran, perumahan dan lain lain. Seiring dengan meningkatnya jumlah produksi meningkat pula jumlah pabrik, agar distribusi menjadi lancar, dibuat jalan-jalan raya penghubung antarkota dan negara, diciptakan pula alat transportasi modern, misalnya mobil, kereta, kapal dan pesawat. Sehingga pada jaman itu muncul konsepsi-konsepsi baru tentang iklan, fotografi, produksi massal dan kecepatan/laju.

Perang Dunia I
Perang Dunia I yang berlangsung di Eropa pada tahun 1914-1918 menyebabkan kerugian jiwa dan materi yang besar. Setelah perang berakhir, masyarakat sibuk menata kembali lingkungannya, membangun kembali tempat tinggalnya dan mereka memerlukan berbagai macam peralatan rumah tangga, perhiasan, pakaian, keramik dan lain-lain, hal ini memberikan kesempatan kepada para seniman untuk bereksperimen dan memberikan semangat kepada mereka untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Barang-barang yang diperlukan masyarakat adalah yang modern dan fungsional. Art Nouveau suatu gerakan seni yang popular pada tahun 1894-1914 tidak lagi bisa bertahan lama karena hasil karya mereka kurang fungsional, penuh dekorasi dan harganya sangat mahal.

Usaha-usaha Mencari Solusi Permasalahan
Seni modern yang muncul pada awal abad ke 20 ini merefleksikan sensasi yang dialami pada waktu itu. Para seniman mencari pemecahan atas konflik yang timbul dengan menciptakan suatu gaya yang dapat merangkul selera semua lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah seni dan pameran pameran seni adalah tempat yang dipakai oleh para seniman untuk bertukar pikiran dan menciptakan ide-ide baru. Pengenalan terhadap material baru seperti plastik, bakelit, kaca dan krom mengharuskan para seniman mencari cara dan gaya sehingga material tersebut dapat diolah dan diproduksi secara massal. Adapula yang meniru rancangan-rancangan lama yang disukai dan terbilang mewah karena berasal dari material yang langka dan biasanya dikerjakan oleh pengrajin, tujuan meniru tersebut agar hasil karya itu bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Pengertian bahwa dengan desain yang bagus dapat menaikkan omset penjualan sudah dikenal oleh para seniman dan pengusaha, hal ini membuat mereka berpikir bagaimana menghasilkan barang dengan desain yang bagus, artinya sesuai dengan selera pasar dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Usaha-usaha pencarian desain yang sesuai dengan selera masyarakat dapat dilihat dalam keragaman hasil rancangan para seniman tersebut.

Spektrum Art Deco, Sekilas Kapal Normandie
Pengaruh Art Deco meresap ke segala bidang, hal ini dapat dilihat pada karya kapal Normandie. Dengan adanya penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang perkapalan, transportasi laut pada saat itu maju dengan pesat, terbukti dengan selesai dirakitnya kapal layar Normandie pada tahun 1935, yang mempunyai panjang 313 M. Kapal layar Normandie yang pada saat itu adalah kapal terbesar dan tercepat dengan interiornya yang mewah merupakan lambang kebanggaan rakyat Perancis, karena data-data teknis yang dipunyai, kapal layar tersebut berhak memakai tanda “Blue Band” yaitu sebuah simbol yang melambangkan kapal layar tercepat di Atlantik utara. Dalam interior kapal layar Normandie banyak dijumpai karya-karya seniman Art Deco Perancis, seperti misalnya Perusahaan Daum (di kota Nancy), Sabino dan René Lalique yang merancang barang-barang dengan bahan dari kaca, mereka merancang cawan sampanye, pemanas ruangan, lampu di ruang makan sampai kolam kaca dengan air terjunnya. Perusahaan Jules Leleu, Ala-voine dan perusahaan interior Dominique merancang tata letak dan mebelnya. Christofle merancang semua barang-barang yang dibuat dari bahan dasar emas dan perak, Roger dan Gallet merancang parfum, Raymond Subes merancang barang-barang dari logam, Jean Puiforcat merancang peralatan makan, sedangkan hiasan-hiasan tambahan seperti patung, relief-relief dirancang oleh Léon Drivier, Pierre Poisson, Saupique, Pommier, Delamarre, Bouchard, Baudry dan Dejean. Meskipun banyak ahli interior dan dekorator yang ikut berperan dalam penataan ruang dan dekorasinya, misalnya Leleu, Montagnac, Dominique, Follot, Simon, Laprade, Pascaud, Süe, Prou, Domin, hasilnya tidak bertabrakan satu sama lain karena semuanya sudah direncanakan dengan seksama. Oleh karena itu tidak berlebihan bila kapal layar Normandie dinamai dengan pameran berjalan, karena banyaknya seniman Art Deco yang ikut andil serta beragamnya barang-barang yang dirancang. Dari gambaran ini terlihat bahwa spektrum Art Deco mencapai berbagai macam bidang.

Para Seniman Art Deco
Telah kita ketahui bahwa Art Deco berkembang dengan baik pada tahun-tahun setelah terjadinya perang dunia pertama dan sebelum meletusnya perang dunia kedua. Tetapi dapat dikatakan bahwa Art Deco yang orisinal lahir pada awal tahun-tahun setelah berakhirnya perang dunia pertama, saat para seniman sedang bereksperimen mencari perspektif baru dengan menolak menggunakan ornamen yang identik dengan Art Nouveau, mereka seolah-olah ingin memutuskan diri dengan gaya Art Nouveau. Di samping menggunakan lagi ornamen-ornamen historis, mereka saling bertukar pikiran untuk berbagi inspirasi. Untuk menggabungkan kesemuanya itu, mereka menggunakan pendekatan eklektik. Para seniman dari berbagai media dengan cepat mengadopsi gaya yang spektakuler ini. Poster, perhiasan, mebel, keramik, patung, lukisan, pekerjaan dari metal bahkan pakaian ikut memeriahkan seni modern yang sedang populer pada saat itu.

Beberapa desainer sangat identik dengan Art Deco, misalnya Jaques-Emile Ruhlmann yang dikenal sebagai master Art Deco melalui karya mebelnya yang hampir selalu memakai material mahal. Desainer mebel lain misalnya Paul Follot, Pierre Chareau, Clement Rousseau, tim desain Süe et Mare (Louis Süe and André Mare) serta Eileen Gray. Rene Lalique dikenal dengan hiasan dari kaca dan desain perhiasannya, Susie Cooper dan Clarice Cliff terkenal dengan keramiknya, Jean Puiforcat dengan perak dan pekerjaan metalnya, Paul Poiret terkenal dengan motif tekstilnya, dan A.M Cassandre dikenal dengan poster-posternya.

Desainer Art Deco terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah desainer yang mengkonsentrasikan diri pada desain yang individual dan dikerjakan dengan kemampuan pekerjaan tangan yang tinggi, rancangan tersebut hanya dapat dibeli oleh kalangan atas, sedangkan kelompok lainnya adalah kelompok desainer yang mengutamakan desain berbentuk geometri dengan berdasarkan pada pertimbangan fungsional.

Beberapa desainer Art Deco yang menciptakan barang-barang untuk masyarakat banyak misalnya Susie (Susan Vera) Cooper (1902-1995) yang terkenal tidak saja sebagai desainer tetapi juga sebagai produser keramik. Ketertarikannya pada keramik ditekuninya sejak tahun 1922. Pada awalnya ia bekerja pada A. E. Gray & Co. Tujuh tahun kemudian ia mendirikan studio serta pabriknya yang memproduksi peralatan makan dan peralatan minum teh untuk masyarakat kelas menengah. Desainer Art Deco lainnya yang berusaha memproduksi barang-barang untuk masyarakat luas adalah René Lalique (1860-1945). René Lalique selain dikenal sebagai desainer perhiasan dikenal juga sebagai desainer glass/kaca. Ia mengawali karirnya sebagai desainer perhiasan Art Nouveau yang sangat inovatif. Pada awal abad ke 20 ia mengalihkan perhatiannya pada material glass/kaca, ia merintis teknik-teknik memproduksi glass/kaca secara massal dalam pabriknya. Ia mendesain berbagai macam jenis barang, misalnya botol parfum, lampu, vas, peralatan makan, patung dan perhiasan dari kaca.

Dari pakaian, perhiasan, poster sampai perabot dan peralatan rumah tangga, semua karya-karya ini memeriahkan dunia Art Deco, para seniman yang menghasilkannya berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mencoba menghadirkan karya-karya yang dapat memenuhi kebutuhan manusia saat itu ditengah perubahan jaman. Partisipasi masyarakat luaslah yang membuat seni ini menjadi spektakuler.

Contoh motif Art Deco :

Sumber :
http://www.arsitekturindis.com/index.php/archives/2003/04/01/spektrum-art-deco/

Sabtu, 10 November 2007

Pengaruh dan Surutnya Tionghoa - Islam

Adalah kenyataan sejarah bahwa orang-orang Tionghoa dari Yunnan pada abad ke–14 dan abad ke-15 datang ke Nusantara terutama ke Sambas, Palembang dan Jawa untuk menyebarkan agama Islam mashab Hanafi yang kemudian surut digantikan dengan mashab lainnya. Pada awalnya mereka hanya menyebarkan agama Islam di komunitas Tionghoa yang pada umumnya tinggal di pesisir sambil melakukan perdagangan. Sudah tentu kedatangannya membawa pengaruh dan perubahan yang besar dalam kehidupan politik dan tata kehidupan masyarakat pada masa itu, dimana pengaruh agama Hindu dengan representasi Kerajaan Majapahit sangat dominan. Tokoh besarnya adalah Laksamana Cheng Ho yang dengan armadanya yang mengagumkan memberi pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Nusa Tenggara.

Banyak orang-orang Muslim Tionghoa Jawa Timur di bawah pimpinan Bong Swi Hoo atau Sunan Ngampel yang menjadi penasihat dan bupati di Majapahit. Mereka kemudian mendorong Raden Patah alias Jin Bun untuk mendirikan Kesultanan Islam pertama di Demak.

Sebagian dari Walisongo yaitu, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati diidentifikasikan sebagai orang-orang Muslim Tionghoa yang sangat besar jasanya dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa, dari Banten sampai Madura.

Kalau kita mengunjungi mesjid-mesjid Walisongo di pantura Jawa seperti Mesjid Agung Demak (Masjid Glagah Wangi) atau makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, maka akan tampak sekali pengaruh kebudayaan Tionghoa. Di tembok-tembok mesjid banyak ditempelkan piring porselin Tiongkok dari zaman Dinasti Ming, demikian juga banyak terdapat guci-guci antik yang tak ternilai harganya. Di Mesjid Glagah Wangi Demak terdapat ornamen kura-kura yang digunakan untuk menunjukkan tahun mulai dibangunnya mesjid tersebut, yaitu tahun 1401 Caka atau 1479 Masehi. Penggunaan kura-kura yang termasuk binatang yang banyak terdapat dalam mitologi Tionghoa, tidak umum dalam kebudayaan Islam,Hindu maupun Buddha.

Demikian juga kalau kita mengunjungi mesjid-mesjid di negara-negara Timur Tengah, termasuk di Saudi Arabia, kita tidak akan menemukan bedug untuk pertanda azan lima waktu. Selanjutnya kita juga tidak akan menemukan model pesantren seperti yang terdapat di Jawa,karena kedua hal tersebut sangat jelas dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa.Arsitektur mesjid-mesjid di Jawa juga sangat dipengaruhi kebudayaan Tionghoa yang bergaya pagoda dan atap bertingkat. Contohnya masih dapat kita saksikan yaitu Mesjid Agung Banten, yang dibangun pada sekitar tahun 1620 oleh arsitek Tionghoa Cek Ban Cut dengan menaranya yang seperti pagoda.

Tradisi atau kebiasaan membakar petasan atau mercon pada masa bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri atau pada upacara-upacara perkawinan, khitanan dsbnya yang dilakukan umat Islam di pedesaan pulau Jawa, jelas merupakan tradisi yang dipengaruhi tradisi Tionghoa yang membawa kebiasaan ini dari daratan Tiongkok, tempat asal petasan tersebut.

Pada masa kekuasaan VOC dan pemerintahan Hindia Belanda, orang Tionghoa banyak yang masuk menjadi Islam kembali.Alasan utamanya adalah untuk menghindari pajak kepala atau pajak konde/kuncir yang dikenakan kepada orang-orang Tionghoa. Kalau mereka masuk Islam, maka mereka akan terhindar dari pajak tersebut.

Demikian juga setelah terjadi insiden pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, orang Tionghoa banyak yang masuk menjadi Islam demi menjamin keamanannya. Ketika terjadi Perang Jawa atau Perang Diponegoro, orang-orang Tionghoa yang mendukung Pangeran Diponegoro juga banyak yang menjadi prajuri menjalankan politik segregasi dan berusaha memisahkan orang-orang Tionghoa dari penduduk setempat. Kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda selalu memojokkan orang Tionghoa.

Orang-orang Tionghoa hanya diperalat untuk kepentingan politik dan ekonomi pemerintah kolonial Belanda. Orang-orang Tionghoa harus diisolir dengan wijkenstelsel dan passenstelsel. Artinya orang Tionghoa harus tinggal di tempat tertentu (Pecinan) dan apabila ingin bepergian harus meminta surat ijin atau pass dari penguasa setempat. Orang Tionghoa juga dilarang memakai pakain orang Jawa atau penduduk pribumi lainnya agar tidak dapat membaur dengan mereka dan menimbulkan kekacauan. Orang Tionghoa juga dilarang memakai pakaian Eropa, artinya orang Tionghoa hanya boleh memakai baju thungsha dan celanan komprang serta rambutnya memakai taucang alias kuncir. Bagi yang melanggar akan kena denda atau hukuman yang berat.

Pada dekade kedua abad ke-20 dengan berdirinya Tionghoa Shang Hwee (Perkumpulan Pedagang Tionghoa) dan Sarikat Dagang Indonesia yang kemudian berubah menjadi Sarikat Islam, terjadi beberapa kali benturan akibat persaingan dalam perdagangan antara pedagang Tionghoa dan Pedagang Islam yang umumnya keturunan Arab, antara lain kerusuhan di Kudus pada tahun 1918 yang berawal dari persaingan di antara pengusaha rokok kretek. Demikian juga di Solo, toko Sie Dhian Ho diserbu oleh para pedagang batik pribumi di pasar Lawean yang merasa tersaingi.

Kemudian pada masa dijalankannya politik etis oleh pemerintah Hindia Belanda setelah Tanam Paksa mendapatkan banyak kecaman di Belanda dan dimulainya liberalisasi dan dibukanya perkebunan-perkebunan dan tambang-tambang yang memerlukan banyak tenaga kerja, terjadilah arus migrasi orang-orang Tionghoa dari daratan Tiongkok terutama dari provinsi-provinsi Hokkian dan Kwangtung. Hal ini dapat terjadi karena Kaisar Dinasti Ching telah mencabut larangan bagi orang-orang Tionghoa untuk bepergian keluar negeri, termasuk perempuan-perempuannya. Sudah tentu kejadian ini menyebabkan terjadinya perubahan besar pada masyarakat Tionghoa di Nusantara yang selama ratusan tahun putus kontak dengan daratan Tiongkok. Hal inilah yang menyebabkan semakin surutnya jumlah Muslim Tionghoa di Indonesia sampai berdirinya rejim Orde Baru yang mendorong terjadinya asimilasi di masyarakat Tionghoa. Di masa Orde Baru karena adanya berbagai larangan bagi orang Tionghoa dalam menjalankan ibadahnya banyak orang Tionghoa yang tertarik untuk menjadi Muslim yang menurut pandangannya dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Rabu, 03 Oktober 2007

Gambar gedung-gedung Weltevreden







Obat Turun Panas Cap Kapal Udara


Produk Obat Penurun Panas ini memiliki kemasan yang cukup ramai dan menarik. Ramai karena kemasannya banyak menggunakan visual-visual dan ornamen-ornamen serta hiasan-hiasan yang bersifat dekoratif. Visual yang terlihat yaitu pesawat terbang, termometer (menunjukkan pengukur suhu badan), awan dan matahari. Sedangkan Ornamen yang terlihat yaitu ornamen bunga, seperti bunga mawar. Bunga dapat melambangkan kemeriahan. Dan harumnya bisa memberikan kesegaran. bunga mawar ini juga memberi kesan natural / alami karena mengandung unsur herbal di dalamnya, yang bahan-bahannya terdiri dari tumbuhan-tumbuhan alami yang sehat dan dikonsumsi untuk menyehatkan tubuh serta efektif dalam penyembuhan (tumbuhan-tumbuhan herbal / obat-obatan).

Pada kemasan obat penurun panas cap kapal udara ini terdapat percampuran budaya yaitu antara kebudayaan Indonesia, Cina, dan barat. Kemasan ini bila dilihat sekilas memang bernuansa Tionghoa, tapi kalau diperhatikan lagi, dalam desain kemasan ini juga terdapat pengaruh budaya Indonesia yang tampil lewat ornamen tumbuh-tumbuhan yang sepertinya agak bernuansa batik dan ornamen batik yang berada di samping kanan dan kiri pada tampilan kemasan bagian belakang. corak batik tersebut yaitu motif batik parang rusak.


Parang Rusak Barong, motif dari Yogyakarta

Kebudayaan Cina ditandai oleh adanya gambar bunga mawar dan tulisan Cina yang ada pada bagian belakang kemasan. Tulisan tersebut berisikan mengenai aturan pakai. Bunga mawar merupakan bunga yang digemari dan sering digunakan oleh masyarakat Cina sebagai elemen dekoratif untuk lukisan-lukisannya yang berupa pemandangan alam. Adanya budaya Tionghoa juga terlihat dari ukiran-ukiran yang digunakan yaitu seperti ukiran yang terdapat pada gapura kelenteng.

Tampilan kemasan didominasi warna merah, kuning dan hijau, hanya ada sedikit warna biru yang digunakan sebagai background depan. Diperkirakan penggunaan warna-warna ini karena di Cina warna-warna ini memiliki makna yang baik. Seperti warna merah yang menandakan keberuntungan, perayaan, kebahagiaan, sukacita, vitalitas, panjang umur, seperti pada saat perayaan Tahun Baru Imlek, semua etnis Tionghoa lebih dominan menggunakan warna merah, baik dari pakaian maupun hiasan-hiasan lainnya. Warna kuning menandakan kesetiaan, kehormatan, memelihara. Sedangkan warna hijau menurut feng shui bermakna Yin, kayu, peningkatan energi, kesegaran, memelihara, keseimbanagan, penormalan harmoni, penyebuhan, kesehatan, kedamaian, dan menenangkan.

Selain itu kemasan ini juga dipengaruhi oleh budaya Barat yang terlihat dari bentuk perisai yang berasal dari romawi, yang menjadi background dari teks Bahasa Mandarin (di bagian belakang kemasan) dan gambar gedung-gedung bangunan di bawah gambar pesawat yang bertujuan agar kemasan tampil modern dari segi estetik. Gedung-gedung itu jelas bukan bergaya Tionghoa tetapi lebih terlihat bergaya Eropa. Selain itu, adanya sulur tanaman yang mirip seperti gaya art nouveau (stylisasi sulur tanaman yang meliuk-liuk dicetuskan jaman dahulu oleh seniman Alphons Muscha dari Eropa).

Diperkirakan adanya pengaruh budaya Eropa dalam kemasan ini adalah karena obat ini diproduksi sejak zaman penjajahan Belanda atau mungkin juga sesudah penjajahan Kolonial Belanda baru berakhir sehingga pengaruh budayanya masih kuat melekat di masyarakat. Terbukti dari tulisan Belanda “ Chemical Waltevreden” yang ada di kemasan tampak depan.

Waltevreden sendiri merupakan nama wisma peristirahatan Gubernur Jenderal Daendels selama pemerintahannnya di Indonesia. Dulu Daendels membangun tempat peristirahatan di dalam kawasan kota Batavia lama, atas lahan yang berdiri Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat tidak jauh dari pusat perdagangan Atrium Senen saat ini. Namun setelah jumlah penduduk di sekitar sana bertambah dan menjadi tidak nyaman lagi untuk dijadikan sebagai tempat peristirahatan, Daendels kemudian membangun Wisma Waltevreden di tanah yang tidak jauh dari lapangan Paviljoen (Lapangan Banteng kini). Batasnya sebelah utara Postweg dan Schoolweg (kini Jl Pos dan Jl Dr Sutomo di Pasar Baru). Sebelah timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari - Pasar Senen), dan sebelah selatan Kramat Raya sampai Parapatan. Pembangunan wisma tempat peristirahatan gubernur jenderal yang satu ini dimulai tahun 1809. Kawasan di sekitar Waltevreden pun akhirnya berkembang menjadi kota baru. Kota baru yang berkembang itu meliputi sekitar Koningspelin (Lapangan Monas) dan Waterlooplein (Lapangan Banteng) yang ternyata kondisinya masih bersih, sehat dan jauh dari kebisingan serta hilir mudik seperti yang berlangsung di dalam tembok di kota Batavia lama. Karena berkembang menjadi kota baru itulah maka kawasan wisma tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Daendels, Koningspelin (Lapangan Monas) dan Waterlooplein (Lapangan Banteng) disebut kawasan Waltevreden. Selanjutnya Waltevreden berkembang menjadi tempat hiburan orang-orang Belanda. Dan akhirnya setelah Gubernur Jenderal Daendels dipanggil pulang ke Eropa, tempat peristirahatan tersebut dijadikan kantor pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jenderal du Bus. Weltevreden yang berarti juga kepuasan berhawa lebih sejuk dengan cepatnya meluas ke berbagai tempat. Dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa latar belakang nama Weltevreden yang diadopsi oleh perusahaan Palvindra (chemical weltevreden) yang berlokasi di Bandung sangat cocok dengan kondisi kota Bandung yang bercuaca sejuk.

Di bagian kemasan tampak depan juga terlihat gambar termometer yang menunjukkan suhu badan normal manusia, gambar termometer itu dipadukan dengan border sehingga terlihat seperti ornamen juga. Dan dimaksudkan agar konsumen dapat langsung mengetahui kegunaan dari obat tersebut yaitu yaitu dapat menurunkan panas. Pada bagian kiri atas (tampak depan kemasan) terdapat sebuah lingkaran yang berwarna hijau. Maksud dari lingkaran tersebut adalah obat tersebut aman untuk diminum karena tidak termasuk obat keras atau membahayakan dan dapat dibeli dimana pun tanpa harus disertai dengan resep dokter.

Kemasan obat ini lebih mengutamakan fungsinya daripada merek produk, hal ini dapat terlihat dari penulisan ‘obat penurun panas’ lebih besar ukurannya dan lebih ditonjolkan yaitu diberi background warna merah. Sedangkan penulisan merek produk ‘cap kapal udara’, ukuran hurufnya lebih kecil dan sulit terlihat sehingga hanya berfungsi sebagai keterangan dari produk. Penulisan obat turun panas menggunakan jenis huruf arial karena kemungkinan besar jenis huruf yang berkembang pada saat itu masih sedikit dan agar mempunyai tingkat keterbacaan yang tinggi.

Logo utama obat ini adalah sebuah pesawat kuno yang diperkirakan berasal dari tahun 1930 an. Gambar pesawat udara bertujuan untuk mewakili merek dari produk tersebut yaitu ‘cap kapal udara’ dan dikarenakan kapal udara berhubungan dengan suhu udara jadi sesuai dengan fungsi dari obat. Selain itu, dikarenakan kapal udara merupakan transportasi yang paling modern dan tercepat diantara yang lainnya seperti khasiat dari obat turun panas ini yang langsung ampuh menurunkan panas dalam seketika. Sosok pesawat sendiri dapat diartikan sebagai pengaruh budaya barat karena dari sanalah tempat pertama kali pesawat diciptakan. Bentuk ekor pesawatnya yang membulat sama dengan model pesawat pada era tersebut, jenis pesawat ini masih menggunakan baling-baling (bukan pesawat jet seperti sekarang ini). Dari bentuk moncong pesawat terlihat bahwa pesawat ini adalah peswat sipil atau untuk keperluan pariwisata masyarakat umum dan bukan pesawat militer. Lagipula dari jumlah baling-balingnya (dua di sayap kiri dan dua di sayap kanan), terlihat bahwa pesawat ini adalah pesawat yang cukup besar yang memiliki daya tampung banyak.

Survey telah kami lakukan melalui telepon ke perusahaan yang bersangkutan namun sepertinya perusahaan tersebut sudah tidak beroperasi lagi dan produknya sudah tidak dijual lagi di manapun.


Sumber:
http://www.republika.co.id
http://iccsg.wordpress.com/2006/09/17/cerita-tentang-bangsa-perantau-1-asimilasi-pencinaan-kembali-dan-pengakuan/
http://www.wikipedia.com

Selasa, 02 Oktober 2007

Haw Par Herbal Breath Fresherner and Throat Soother

Haw Par Herbal Breath Fresherner and Throat Soother








KATEGORISASI
* Jenis rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis produk :
-- Lainnya : Obat-obatan

PRODUK
* Nama produk : Haw Par Tiger Balm
* Nama pemilik produk : Haw Par Healthcare Ltd., Singapore
* Nama produsen : Haw Par Corporation Ltd.
* Alamat produk :
-- Jalan : Bangpa-In Industrial Estate
-- Kota/ Kabupaten : Ayudhaya

LEGALITAS
* Nomor daftar legal : 2A 98/35

VISUAL
* Dimensi (milimeter) :
-- Lebar : 82
-- Panjang / tinggi : 103,5
-- Tebal : 0,4

* Warna :
-- Spot :
1. Kuning
2. Merah
3. Hijau

* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material :
1. Kertas
2. Alumunium foil

* Visual tang tampak :
1. Gambar Harimau
2. Daun
3. Bunga

* Tipe huruf :
1. Kanji
2. Arial
3. Thailand
4. Courier

KONTEKS
* Budaya yang mempengaruhi :
1. Tionghoa terlihat dari gambar macan, tulisan kanji

* Penafsiran (ekspresionistik) :
Kemasan ini terkesan panas dan meriah, menunjukkan semangat dan kekuatan.

* Kaitan sosial (instrumentalistik) :
Produk ini berpusat di Singapura yang didominasi masyarakat Tionghoa, karenanya hiasan yang bernuansa Tionghoa lebih sesuai gendan selera konsumen.

COMMENT

Herbal Breath Fresherner and Throat Soother
Produk keluaran Perusahaan Haw Par Tiger Balm (Thailand) Ltd. ini adalah semacam permen yang memiliki fungsi seperti obat batuk, tertulis bahwa pakuatan ini dapat menyegarkan tenggorokan dan meluruhkan dahak. Bahkan pada kemasan permen ini juga terdapat dosis pemakaiannya yang dicetak dalam huruf Mandarin. Dosisnya adalah 1-3 butir sekali makan atau sesuai kondisi atau keperluan. Ini menunjukkan bahwa pakuatan ini memang merupakan obat batuk tetapi tergolong sangat ringan, jadi pakuatan ini bisa dimakan sebagai permen pelega tenggorokan biasa dan sekaligus baik bagi orang yang sedang batuk. Mungkin produk pakuatan ini termasuk efektif karena produk ini sudah ada sejak lama dan masih bertahan di pasaran hingga saat ini. Bentuk permen kotak-kotak kecil berwarna hitam. Rasanya mirip jamu dan sedikit sejuk seperti permen mint.

Pakuatan ini memiliki dua lapis kemasan, kemasan luarnya berbentuk alumunium foil berlapis kertas waterproof yang di press menggunakan mesin sehingga tidak perlu dilipat-lipat dan direkatkan dengan lem atau perekat lainnya. Kemasan bagian dalamnya berupa kaleng persegi panjan pipih dengan ketebalan sekitar setengah centimeter dan dibuka dengan cara sliding.

Tampilan kemasan pakuatan ini terlihat bergaya Tiongkok karena unsur warna merah dan emasnya. Pada bagian atas tengah kemasan depan terdapat tulisan Mandarin “Hu Biao Yong An Thang”, artinya “Pabrik obat Cap Macan”, tulisan ini dicetak dengan background kuning yang berbentuk segi delapan dengan bingkai berwarna emas. Di bawah tulisan ini juga terbapat tulisa “Pa Kua Tan” dalam huruf Mandarin yand diberi background merah dengan bingkai emas. Pada bagian tengah kemasan terdapat gambar harimau berwarana kuning dan oranye yang menjadi trade mark perusahaan ini, sebenarnya jika dilihat sekilas logo harimau ini tidak terlalu menonjol karena diletakkan di tengah-tengah lingkaran merah yang lebih kuat dari warna harimau nya, namun masih terlihat jelas karena diberi outline hitam. Di samping gambar harimau terdapat gambar tumbuhan hijau yang melengkung, mungkin menunjukkan bahwa pakuatan ini terbuat dari bahan-bahan alami berupa tumbuhan.

Ornamen bunga mawar di bagian bawah kanan dan kiri termasuk ikon budaya Cina karena umumnya seniman-seniman Cina terkenal identik menggambar lukisan bertema alam seperti pemandangan dan bunga-bunga .

Desain kemasan ini terlihat simetris, baik bari penyusunan tulisan maupun penempatan ornamen-ornamen penghiasnya. Pada kemasan ini terdapat beberapa warna, yaitu : merah, kuning, hijau, emas, putih. Yang menonjol pada tampilan kemasan ini adalah unsur warna dan bentuknya. Kemasan ini terlihat meriah dan penuh.

Selain itu juga terdapat tulisan-tulisan Thailand pada kemasan ini karena pakuatan ini diproduksi oleh anak perusahaan Haw Par yang terdapat di Thailand.

Dari segi kelengkapan, kemasan pakuatan ini lumayan lengkap mencantumkan data pabrik obat, nomor registrasi, tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, berat bersih, jenis kemasan, dosis hingga komposisi dan ditampilkan balam tiga bahasa yaitu Mandarin, Thailand, dan Inggris.

Berbicara mengenai simbol harimau sendiri, di China simbol harimau memiliki arti keperkasaan, keberanian, kegagahan, dan kekuatan, selain itu juga dapat diartikan sebagai “dunia fisik/jasmani”. Oleh karenanya banyak terdapat patung macan di kuburan atau kuil karena dipercaya bahwa harimau dapat mengalahkan siluman atau setan. Menurut kelompok kami, logo ini mungkin mengandung arti “kekuatan yang menguasai dunia jasmani”, maksudnya keperkasaan melawan penyakit yang merupakan kelemahan makhluk hidup secara fisik, karena seperti yang sudah diketahui banyak orang bahwa perusahaan Tiger Balm ini bergerak di bidang pengobatan.

Dan bila diperhatikan pada kemasan ini terdapat beberapa bentuk persegi delapan.




Menurut perkiraan saya, bentuk ini memiliki arti tertentu karena di China terdapat sebuah kepercayaan mengenai sebuah benda penolak bala berbentuk persegi delapan yang disebut “Pa Kua”, mereka percaya bahwa setan yang melihat benda tersebut akan terhisap ke dalamnya dan tersesat karena berputar-putar di dalam dan tidak bisa menemukan jalan keluar lagi.Di bagian tengah pa kua biasanya terdapat Dao yang berwarna hitam putih dan melambangkan keseimbangan Yin dan Yang.
Penerapan Pa Kua dalam kemasan ini ada kaitannya dengan mitos itu.

Terdapat beberapa element yang sama dengan ornament dari Cina seperti pada gambar:









Gambar bunga mawar pada gambar 1 mirip dengan penggambaran pada produk permen macan tersebut, sedangkan pada border menggunakan bentuk arsitektur banguna cina (klenteng) yang megah dengan segala dekoratif dan motifnya yang sangat “oriental” seperti pada gambar 2&3

Perusahaan yang juga mengeluarkan balsem sebagai produk utama ini sudah dikenal lama oleh masyarakat. Perusahaan raksasa ini berpusat di Singapura dan memiliki banyak cabang, bahkan sudah dikenal hingga ke Eropa. Sedikit kami bahas latar belakang nama Tiger Balm ini:


Sejarah singkat Cap Macan

Jaman dahulu kala di Rangoon (Yangon), Burma ada kakak beradik yang jenius. Ayah kedua bersaudara ini bernama Au Chu Kin, anak dari seorang herbalist di Amoy (Fukien sebelah barat)
Boon Haw “ The Gentle Tiger” lahir pada tahun 1882 dan Boon Par “The Gentle Leopard” lahir tahun 1888. Mereka disekolahkan di sekolah Inggris dimana keahlian Boon Haw adalah bela diri. Suatu hari Boon Haw berkelahi dengan seorang guru sehingga ayahnya, Aw Chu Kin harus mengirim dia ke Cina sedangkan adiknya , Boon Par tetap di Rangoon.


Aw Boon Haw




Aw Boon Par





Pada tahun 1908, Chu Kin wafat meninggalkan klinik obat-obatan kepada Boon Par. Gentle Leopard merasa ini terlalu berat dan akhirnya dia meminta kakaknya balik untuk membantu meneruskan usaha keluarga. “Aku akan belajar sebaik mungkin tentang obat-obatan negara barat dank au akan focus ke obat-obatan Timur (obat Cina),” kata Boon Par kepada kakaknya.
“Bersama-sama kita tak akan kehilangan seorang pasien pun dan mereka akan bisa memilih antara ramuan Barat atau Timur dan rejeki kita akan tetap bersama kita.” Sejak itulah mereka berdua mengembangkan perusahaan dan memakai nama Haw Par (singkatan nama dari kedua kakak beradik tersebut) sedangkan untuk logo menggunakan lambang macan (sekarang lebih terkenal dengan sebutan Cap Macan). Macan dalam mitologi Cina merupakan hewan yang mempunyai kekuatan magis sehingga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu Macan juga dipercaya dapat mengambil bentuk manusia sehingga simbol macan banyak digunakan dalam obat-obatan Cina. Penggunaan Yin dan Yang sebagai simbol keharmonisan dan keseimbangan.

Profil Perusahaan

Haw Par Co. Ltd telah terdaftar di Singapore Exchange sejak tahun 1969. Haw Par muncul dari hikayat Slater Walker yang terdapat di sobekan-sobekan kain. Michael Fam dipilih oleh pemerintah untuk memimpin perusahaan (1975-1977).
Dalam 10 Tahun terakhir, Haw Par telah megembangkan usahanya termasuk, dalam bidang tekstil, perdagangan komoditas, travel, mesin, computer dan elektronik. Sekarang, Haw Paw tidak lagi perusahaan yang berkembang hanya pada tahun 70-80an tetapi perusahaan dengan investasi strategis, dan dua pusat utama bisnis yang mengutamakan pada produk ‘Healthcare’yang mempromosikan hidup sehat.

Produk-produk perawatan kesehatan Haw Par telah dibuat dan dipasarkan dengan berbagai macam nama. Seperti Tiger Balm dan wan Loong. Obat salep Tiger Balm dan produk perluasannya seperti Tiger Balm Medicated Plester, Tiger Balm Joint Rub, dan Tiger Balm Neck & Shoulder Rub telah digunakan di seluruh dunia yang berguna untuk menghilangkan / mengobati luka-luka dan rasa sakit.

Haw Par juga memiliki dan mengoperasikan 2 oceanarium yaitu bernama Underwater World Singapore di Sentosa dan Underwater World Pattaya di Thailand.

Referensi

http://www.andymcdermott.com/tiger_facts.htm
http://www.chinahistoryforum.com
http://www.hawpar.com
http://www.craftingspot\chinese_ornament.htm
http://www.communityindonesiaaroundtheworld.com
http://menteridesainindonesia.blogspot.com/
http://www.blogombal.org/
http://www.crystal-cure.com/red.html
http://www.blogger.com/http//72.14.235.104/search?q=cache:YfW5TRifxxgJ:label.blogombal.org/category/makanan-minuman-obat/page/4/+balsem+cap+macan&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a
http://www.hp.com/sbso/productivity/color/pdf/meaning_of_color.pdf
http//www.sensationalcolor.com/content/view/1279/112/+meaning+yellow+color+in+china&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a
http://www.sibagraphics.com/colour.php
http://www.republika.co.id
http://iccsg.wordpress.com/2006/09/17/cerita-tentang-bangsa-perantau-1-asimilasi-pencinaan-kembali-dan-pengakuan/
http://www.wikipedia.com

Rabu, 29 Agustus 2007

Wenter Cap Bunga Anggrek
















KATEGORISASI
* Jenis Rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis Produk :
-- Pangan : Makanan

PRODUK
* Nama produk : Wenter Cap Bunga Anggrek
* Nama pemilik produk : Susanto Setyo Mulyono
* Nama produsen : Perusahaan Jenang & Krasikan
* Alamat produk :
-- Kota/ kabupaten : Tangkisan-Sukoharjo-Solo

VISUAL
* Dimensi (milimeter) :
-- Lebar : 62
-- Panjang / tinggi : 87

* Warna :
-- Spot : Merah

* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas

* Visual tang tampak :
1. Bunga Anggrek
2. Pita

* Tipe huruf :
1. Arial
2. Times New Roman

KONTEKS
* Budaya yang mempengaruhi :
1. Indonesia terlihat dari Pita dan warnanya yang mirip bendera merah putih

COMMENT
Pada label Persh. Jenang & krasikan cap bunga anggrek ini terdapat dua gambar bunga anggrek yang dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Persh. Jenang & krasikan cap bunga anggrek ini adalah makanan khas daerah ( terbuat dari beras ketan ) yang memiliki cita rasa harum dan manis serta lezat dan gurih ( terbuat dari beras ketan ). Nama pemiliknya tercantum pada label tersebut yaitu Susanto Setyo Mulyono yang memproduksikan makanan khas ini di daerah tangkisan-sukoharjo-solo.

Pola yang digunakan bentuk garis rangkap dua pada tepinya untuk mendukung gambar bunga anggreknya dan agar terlihat lebih indah dan terkesan rapih. Bentuk pitanya terpengaruh dari budaya romawi.

Penggunaan icon anggrek sesuai dengan tagline produk tersebut yaitu “harum, lezat, manis, gurih”. Bunga anggrek Bulan adalah bunga pesona bangsa Indonesia. (menurut wikipedia).Anggrek sering dipergunakan sebagai simbol dari rasa cinta, kemewahan, dan keindahan selama berabad-abad. Bangsa Yunani menggunakan anggrek sebagai simbol maskulinitas , sementara bangsa Tiongkok pada jaman dahulu kala mempercayai bahwa anggrek sebagai tanaman yang mengeluarkan aroma harum dari tubuh Kaisar Tiongkok. Pada pertengahan zaman, anggrek mempunyai peran penting dalam pengembangan tehnik pengobatan menggunakan tumbuh-tumbuhan. Penggunaannya pun meluas sampai menjadi bahan ramu-ramuan dan bahkan sempat dipercaya sebagai bahan baku utama pembuatan ramuan ramuan cinta pada masa tertentu. Akhirnya, pada permulaan abad ke-18, kegiatan mengkoleksi anggrek mulai menjadi kegiatan yang banyak dilakukan di segala penjuru dunia, terutama karena keindahan dan sisi eksotik dari tanaman ini. Karena kepercayaan itulah mungkin sang pemilik menggunakan icon anggrek sebagai ilustrasi dari produk yang dijualnya. Penggunaan warna merah juga merupakan lambing dari goodluck, happiness, joy, vitality, longlife (menurut fengshui cina).

Jenis huruf yang digunakan serif dan sans serif yaitu font arial dan times new roman.
Warna yang digunakan adalah warna merah dan putih. Karena untuk produk makanan, makna warna merah tersebut adalah untuk menambah selera makan dan warna putih untuk menunjukan bahwa produk makanan tersebut bersih dan murni ( halal 100% ) seperti yang tercantum pada labelnya.

Kertas sigaret Tjap Kupu


















































KATEGORISASI
* Jenis rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis produk :
-- Lainnya : Kertas


PRODUK
* Nama produk : Kertas sigaret Tjap Kupu

LEGALITAS
* Nomor daftar legal : 126074

VISUAL
* Dimensi (milimeter) :
-- Lebar : 85
-- Panjang / tinggi : 150

* Warna :
-- Spot : Hijau

* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas

* Visual tang tampak :
1. Kupu-kupu
2. Sayap garuda

* Tipe huruf :
1. Arial

KONTEKS
* Budaya yang mempengaruhi :
1. Indonesia terlihat dari Sayap garuda

COMMENT

Pada Kertas Sigaret Tjap kupu ini terdapat gambar “kupu-kupu” yang dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Kertas Sigaret Tjap kupu ini adalah kertas manis, seperti yang tercantum pada labelnya. Kenapa menggunakan kupu-kupu?? Secara visualnya, hewan kupu-kupu memang sangat terlihat manis. Dan oleh karena itu, hewan kupu-kupu ini dijadikan symbol / gambar untuk Kertas Sigaret Tjap kupu yang ingin menunjukkan bahwa Kertas Sigaret Tjap kupu ini merupakan kertas rokok yang manis. Pola yang digunakan kebanyakan pola bentuk garis. Hal itu dapat terlihat dari bentuk persegi atau kotak sebagai hiasan pada tepi Kertas Sigaret Tjap kupu dengan garis yang tebal tipis dan juga terdapat lengkungan yang menyertai garis tepi tersebut, di maksudkan untuk menambah keindahan dan perpaduan yang selaras dengan bentuk visualnya yaitu hewan kupu-kupu.

Sedangkan di bagian belakang dari Kertas Sigaret Tjap kupu ini terdapat gambar sayap seperti sayap burung garuda yang ditengahnya terdapat angka satu yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Kertas Sigaret Tjap kupu ini unggul nomor satu di Indonesia karena sayap yang terlihat seperti sayap burung garuda. Pola yang digunakan hampir menyerupai pola di depannya.

Jenis huruf yang digunakan bertipe sans serif dengan font yang digunakan yaitu arial. Warna yang digunakan hanya kuning dan hijau. Warna kuning menunjukan meriah dan hijau menunjukan keyakinan dan kepercayaan bahwa Kertas Sigaret Tjap kupu ini unggul nomor satu di Indonesia.

Wenter Nathol Tjap Kumbo Karno

















KATEGORISASI
* Jenis rancangan :

-- Kemasan : Kertas
* Jenis produk :
-- Lainnya : Obat-obatan


PRODUK
* Nama produk : Wenter Nathol Tjap Kumbo Karno
* Nama produsen : Kho Khik Soen * Alamat produk :
-- Jalan : Warungpelem 44
-- Kota/ kabupaten : Solo


LEGALITAS
* Nomor daftar legal : 46521


VISUAL
* Dimensi (milimeter) :

-- Lebar : 54
-- Panjang / tinggi : 85

* Warna :
-- Spot : Coklat


* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (Uncoated papper)

* Visual yang tampak :
1. Tokoh wayang
2. Pintu Gerbang


* Tipe huruf :
1. WST_Engl
2. Bell Mt KONTEKS

* Budaya yang mempengaruhi :
1. Jawa terlihat dari Wayang dan unsur batik
2. Cina terlihat dari Pintu gerbang

* Penafsiran (ekspresionistik) :
Gambar wayang tersebut tidak berhubungan dengan wenter pakaian


* Kaitan sosial (instrumentalistik) :
Warna dan gambar tidak menarik


COMMENT

Zat pewarna yang dipergunakan untuk mewarnai sarung pada jaman dulu dipergunakan zat pewarna alami dari tumbuh - tumbuhan seperti ; kayu teger, kayu jambal, kayu mahoni dan lain sebagainya. Namun pada saat ini zat pewarna alami tersebut susah didapatkan dalam jumlah banyak. Hingga akhirnya pengrajin beralih penggunaan zat pewarna sintetis atau kimiawi yang lazim disebut dengan istilah setempat wenter /wantek yang diimport dari Jerman, Polandia, Jepang dan Cina. Pada umumnya para pengrajin memilih zat pewarna sintetis buatan Cina. Icon wayang sangat mencerminkan budaya Indonesia dengan warna yang coklat khas Indonesia meskipun empunya adalah orang cina terlihat dari nama “Kho Khik Soen” namun ia tidak terlalu menonjolkan budaya cina sebaliknya ia mengeksplorasi budaya wayang kulit kemungkinan besar karena saat itu terjadi ketidakadilan perlakuan terhadap pedagang pribumi maupun pedagang asing terutama dari cina (pedagang asing dipersulit untuk berdagang) atau kemungkinan kedua karena ia tertarik dengan budaya Indonesia yang unik dengan kekayaan budaya wayang dan batik.

Kumbo karno yang dipakai sebagai icon produk ini adalah salah satu tokoh perwayangan Jawa.

Hal ini dapat dilihat dari petikan artikel dibawah yang diambil dari salah satu website:”Pagelaran wayang ini mengambil tema, Kumbo Karno Gugur. Tokoh ini tak lain adalah adik kandung dari Raja Alengka, Dasamuka yang dikenal dalam dalam dunia pewayangan sebagai sosok pemimpin yang lalim. Intinya, Kumbo Karno yang tak sejalan dengan kepemimpinan kakaknya, menghadapi situasi dilematis, ketika negerinya terlibat peperangan dengan kerajaan Astina. Ketika akhirnya Kumbo Karno memutuskan untuk ikut perang, adalah bukan karena membela kakaknya, melainkan sebagai wujud kecintaannya pada negeri yang melahirkannya. Singkat cerita, Kumbo Karno akhirnya gugur di tangan Hanoman melalui senjata panahnya yang sakti. Tapi nampaknya bukan lakon cerita yang menarik perhatian penonton, tetapi lebih pada duel sang dalang kondang.”

Produk wenter ini berpusat di solo, dengan ciri khas gambar yang ditonjolkan adalah wayang. Tapi nama penjualnya adalah KHO KHIK SOEN yang berasal dari etnis Tiong Hoa. Tetapi dia menggunakan wayang karena adanya pengaruh dari budaya Indonesia, tempat dimana dia tinggal. Warna yang di gunakan adalah warna coklat dan krem yang memperlihatkan perpaduan yang serasi.
Warna coklat menunjukkan arti hangat dan bersahabat (ditunjukkan oleh perpaduan budayanya ).
Jenis huruf yang digunakan sans serif dan jenis fontnya arial.

Kerupuk Ikan Cap Bajing




































KATEGORISASI
* Jenis rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis produk :
-- Lainnya : Kerupuk

PRODUK
* Nama produk : Kerupuk Ikan Cap Bajing

LEGALITAS
* Nomor daftar legal : 2A 98/35

VISUAL
* Dimensi (milimeter) :
-- Lebar : 111
-- Panjang / tinggi : 148

* Warna :
-- Spot : Hitam

* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (Koran)

* Visual tang tampak :
1. Seekor bajing (tampak samping)

* Tipe huruf :
1. Gill Sans MT Condensed
2. High Tower Text
3. Brush Script MT Italic

KONTEKS
* Budaya yang mempengaruhi :
1. Indonesia terlihat dari kata yang tidak baku 'terbikin'

* Penafsiran (ekspresionistik) :
Gambar tersebut menunjukkan nama/cap dari produk

* Kaitan sosial (instrumentalistik) :
Kemasan tidak menarik perhatian konsumen

COMMENT

Pada label Kerupuk Ikan cap Bajing ini terdapat gambar tupai (bajing). Kenapa memakai gambar tupai (bajing)?? karena daging tupai (bajing) memang gurih dan lezat, sesuai dengan tulisan yang tercantum pada labelnya. Pola yang digunakan bentuk garis rangkap dua pada tepinya agar terkesan rapih (produk makanan). Jenis huruf yang digunakan serif dan sans serif serta script. Warna yang digunakan adalah warna hitam dan putih. Karena untuk produk makanan, makna warna hitam tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa produk makanan ini sangat berbobot / kualitasnya baik. Dan warna putih untuk menunjukkan bahwa produk makanan ini bersih (higienis) dan murni (terbuat dari bahan pilihan).

Desainnya sederhana karena hanya terdapat gambar seekor bajing yang terlihat dari samping yang menunjukkan cap atau nama dari produk dan hanya menggunakan warna hitam sebagai warna outline dan tulisan. Tulisan yang tertera pada kemasan sangat singkat namun jelas apa yang ingin disampaikan. Konsumen yang melihat produk ini akan langsung mengetahui jenis makanan apa yang dijual karena tulisan yang menunjukkan jenis produk tersebut menggunakan ukuran huruf yang paling besar dari yang lainnya. Bahasa Indonesia yang digunakan tidak baku. Hal ini terlihat dari penggunaan kata ‘terbikin’ yang seharusnya adalah ‘terbuat’. Kertas yang digunakan seperti kertas untuk surat kabar dan desainnya terlihat kurang menarik.

Kertas Sigaret Halus Sinden Istimewa




















KATEGORISASI

* Jenis rancangan :

-- Kemasan : kertas

* Jenis produk :

-- Lainnya : kertas


PRODUK

* Nama produk : Kertas Sigaret Halus Sinden Istimewa


LEGALITAS

* Nomor daftar legal : 84579


VISUAL

* Dimensi (milimeter) :

-- Lebar : 45

-- Panjang / tinggi : 70

* Warna :

-- Spot :

1. Jingga

2. Merah

* Teknik produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (Plain Papper)

* Visual tang tampak :

1. Gambar Sinden

* Tipe huruf :

1. Garamond

2. Arial


KONTEKS

* Budaya yang mempengaruhi :

1. Jawa terlihat dari gambar sinden

COMMENT

Ini adalah Kertas Sigaret Halus merek Sinden. Visual yang tampak ialah seorang penari sedang bersimpuh dengan merek Sinden. Mengapa? karena Pesinden adalah primadona yang menjadi magnet dan selalu dikagumi dalam tontonan rakyat. Penonton pria biasanya terbuai dan mabuk asmara karena mereka. Bagi penikmatnya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis. Sama seperti orang merokok: semata demi kenikmatan,bahkan rokok secara medis tak memberikan keuntungan bagi kesehatan dan justru sangat membahayakan. Warna yang digunakan oranye tua, oranye muda, kuning dan putih. Warna oranye dan kuning memberi kesan meriah dan ceria (seperti menonton sinden menari). Warna putih terkesan bersih, murni dan istimewa. Jenis huruf yang digunakan sans serif dan script.

Pesinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya.Pesinden juga sering disebut Sinden, menurut Ki-Mujoko Joko Raharjo (Alm) berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada jaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam pangung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sindhen memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Sunda, Banyumas, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Pada pergelaran wayang jaman dulu Sinden duduk dibelakang Dalang, tepatnya di belakang tukang gender dan di depan tukang Kendhang. Hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya ataupun salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut. Tetapi seiring perkembangan jaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang melakukan berbagai pengembangan, Sindhen dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang.

Di era modern sekarang ini Sinden mendapatkan posisi yang hampir sama dengan artis penyanyi campursari, bahkan sindhen tidak hanya dibutuhkan untuk mahir dalam menyajikan lagu tetapi juga harus menjaga penampilan, dengan berpakaian yang rapi dan menarik. Sindhen tidak jarang menjadi "pepasren" (penghias) sebuah panggung pertunjukan wayang. Bila Sindhennya cantik-cantik dan muda yang nonton akan lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang. Perkembangan wayang saat ini bahkan Sindhen tidak hanya didominasi wanita tetapi telah muncul beberapa orang Sindhen laki-laki yang mempunyai suara merdu seperti wanita, tetapi dalam dandannya sindhen ini tetap memakai pakaian adat jawa selayaknya pengrawit pria lainnya dan beberapa waktu lalu Sindhen laki ini malah menjadi trend para Dalang untuk menghasilkan nilai lebih pada pergelarannya.

Untuk menunjukkan kesan halus maka sangat cocok sekali jika kertas sigaret ini menggunakan icon sinden. Warna kuning merah dan putih sangat harmonis sehingga orang mudah menggingat produk ini. Tulisan halus dibuat seolah berbeda dari yang lain (seperti stylasi tulisan tangan) untuk menunjukkan kesan halus muncul ke permukaan.
Menurut kami kemasan ini terpengaruh oleh budaya Jawa, hal ini terlihat dari gambar Sinden pada kemasan. Pesinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.

Pesinden juga sering disebut Sinden, menurut Ki-Mujoko Joko Raharjo (Alm) berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada jaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam pangung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sindhen memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Sunda, Banyumas, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sindhen tidak hanya satu orang dalam pergelaran tetapi untuk saat ini pada pertunjukan wayang bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler.

Cigaret Papier Tjap Kutjing


















KATEGORISASI :
* Jenis rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis produk :
-- Lainnya : Kertas Cigaret

PRODUK :
* Nama produk : Cigaret Papier Tjap Kutjing

LEGALITAS :
* No. Daftar legal : 261722

VISUAL :
* Dimensi (milimeter)
-- Lebar :60
-- Panjang/tinggi : 80

* Warna :
-- Spot :
1. Biru
2. Orange

* Teknik produksi : cetak offset

* Material : Kertas (Plain Papper)

* Visual yang tampak :
1. Gambar kucing yang memakai tuxedo
2. Ornamen border
3. Background bermotif kucing

* Tipe huruf : Century Gothic

KONTEKS :

* Budaya yang mempengaruhi :
1. Eropa / Barat terlihat dari kucing yang memakai tuxedo
2. China terlihat dari kucing karena dianggap mendatangkan keuntungan

COMMENT :

Cigaret Papier Tjap Kutjing ini ditemukan di Stasiun Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah, sepuluh tahun silam. Saat itu penemunya sedang traveling dan sedang foto –foto (BW) di atas kereta rakyat (Solo-Semarang) yang berbangku kayu selama enam jam. (menyusuri hutan jati, bersama para pedagang antardesa-antarkecamatan).


Visual yang tampak pada produk ini ialah kucing yang berbadan seperti manusia. Dan ternyata kucing tersebut ialah salah satu tokoh dongeng. Dia kucing yang pintar akting, sehingga semua orang seperti tersihir, percaya kepada bualannya. Pengusaha yang kagum sama tokoh dongeng kucing bersepatu itu alah Joe Kamdani

, pendiri PT Datascrip. Joe Kamdani sangat terkesan dengan kepercayaan diri si kucing dalam berhubungan dengan orang-orang besar. Ketika memulai bisnis dia bingung, tak tahu table manner. tetapi setelah sukses, dia tak malu untuk mengungkapkan kisah lucu dan suramnya di masa lalu.


Warna yang digunakan ialah hitam, biru, putih dan oranye. Warna hitam menunjukkan berwibawa dan berbobot. Warna biru memberi kesan sepi, dingin (seperti yang dirasakan oleh susahnya hidup si tokoh dongeng tersebut). Warna putih memberi kesan bersih dan murni. Warna oranye memberi kesan maju dan berkembang (seperti usaha yang dilakukan oleh si tokoh dongeng tersebut sampai menjadi sukses).
Jenis huruf yang digunakan sans serif dan script.


Bagi sebagian orang Jawa, “sigaret” tak berarti rokok melainkan “kertas untuk melinting rokok”.
Gambar Kucing pada kemasan Cigaret Papier Tjap Kutjing terpengaruh oleh berbagai budaya. Salah satunya adalah Mesir kuno. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Selain budaya Mesir kuno dan budaya Eropa yang mempengaruhi pembuatan kemasan ini, terdapat pula unsur budaya Tiong Hoa. Yaitu meletakkan patung kucing (posisi berdiri dengan tangan kanan terangkat ke atas) di luar rumah dan lukisan-lukisan kucing di dalam rumah merupakan suatu cara yang dikatakan dapat menghindari kemiskinan. Selain itu, dianggap sebuah kesialan jika melihat kucing hitam melintas, karena kucing hitam merupakan kawan sejawat penyihir jahat.

Sedangkan di Inggris, berkembang sebuah kebiasaan menempatkan kucing di bagian depan bawah ambang pintu (adat Inggris kuno). Menempatkan kucing atau lebih tepatnya mengubur di depan rumah yang baru dibangun dianggap akan membawa keberuntungan. Selain itu berkembang kepercayaan kuno bahwa kucing yang lahir pada bulan Mei dianggap akan membawa ‘ular’ ke dalam rumah.


Pada kemasan terlihat pula kucing tersebut mengenakan tuksedo. Tuksedo sendiri adalah pakaian pria atau lebih tepatnya jas panjang yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu hitam. Pakaian ini merupakan budaya Eropa atau lebih tepatnya budaya Inggris. Selain itu ada istilah di Amerika Serikat dan Kanada yang mungkin berkaitan dengan gambar kucing bertuksedo pada kemasan Cigaret Papier Tjap Kutjing. Di Amerika Serikat dan Kanada berkembang istilah ‘tuxedo cat’ yaitu kucing yang mengenakan dasi hitam dan berpakaian formal.


Secara keseluruhan, kemasan terlihat kurang menarik karena hanya melayout gambar kucing di tengah kemasan dan warna yang digunakan juga hanya warna biru dan jingga. Materi kemasan juga sderhana yaitu hanya kertas HVS biasa.

Senin, 27 Agustus 2007

Obat Turun Panas Cap Kapal Udara

































KATEGORISASI
* Jenis Rancangan :
-- Kemasan : Kertas
* Jenis Produk :
-- Pangan : Obat-obatan

PRODUK
* Nama Produk : Obat Turun Panas Cap Kapal Udara
* Nama Produsen : PT. PALVINDRA
* Alamat Produk : Bandung

LEGALITAS
* Nomor Daftar Legal : D 2818829

VISUAL
* Dimensi (milimeter) :
-- Lebar : 67
-- Panjang/tinggi : 84

* Warna :
-- Spot :
1. Kuning
2. Hijau
3. Biru
4. Merah

* Teknik Produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (HVS)

* Visual yang tampak :
1. Kapal terbang
2. Thermometer
3. Background perkotaan berawan dengan matahari
4. Ornamen bungan dan sulur tanaman

* Tipe huruf :
1. Serif
2. San serif
3. Kanji Cina

Konteks :
* Budaya yang mempengaruhi :
1. Cina terlihat dari ornamen
2. Indonesia terlihat dari ornamen batik
COMMENT
Kemasan obat batuk cap kapal udara ini bila dilihat sekilas memang bernuansa Tionghoa, tapi kalau diperhatikan lagi, dalam desain kemasan ini juga terdapat pengaruh budaya Indonesia yang tampil lewat corak batik yang menjadi ornamen samping kanan dan kiri pada tampilan kemasan bagian belakang. Selain itu ornament tumbuh-tumbuhan yang digunakan juga sepertinya agak bernuansa batik. Selain itu juga terdapat pengaruh budaya Barat pada kemasan ini, terlihat dari bentuk perisai yang menjadi background teks Mandarin yang ada di bagian kemasan tampak belakang dan gambar gedung-gedung bangunan di bawah gambar pesawat, gedung-gedung itu jelas bukan bergaya Tiongkok tapi lebih terlihat bergaya Eropa. Di bagian kemasan tampak depan juga terlihat gambar termometer yang menunjukkan suhu badan normal manusia, gambar termometer itu dipadukan dengan border sehingga terlihat seperti ornamen juga.

Tampilan kemasan didominasi warna merah, kuning dan hijau, hanya ada sedikit warna biru yang digunakan sebagai background depan. Diperkirakan penggunaan warna-warna ini karena di China warna-warna ini memiliki makna yang baik. Seperti merah yang menandakan keberuntungan, perayaan, kebahagiaan, sukacita, vitalitas, panjang umur. Kuning yang menandakan kesetiaan, kehormatan, memelihara. Sedangkan hijau menurut feng shui bermakna Yin, kayu, peningkatan energi, kesegaran, memelihara, keseimbanagan, penormalan harmoni, penyebuhan, kesehatan, kedamaian, dan menenangkan.

Sagu Mutiara Cap Kuda Zebra





















KATEGORISASI :
* Jenis Rancangan :
--Kemasan : Kertas
*Jenis Produk :
--Pangan : Sagu

PRODUK :
* Nama Produk : Sagu Mutiara Cap Kuda Zebra
* Nama Produsen : Persh, Sagu Mutiara "OHL"
* Alamat Produk : Semarang, Jawa Tengah

LEGALITAS :
* No. Daftar Legal : Depkes.No.M.P.9880801

VISUAL :
* Dimensi (milimeter)
-- Lebar : 62
-- Panjang/tinggi : 84

* Warna :
-- Spot :
a. Biru
b. Merah

* Teknik Produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (HVS)

* Visual yang tampak :
1. Kuda Zebra
2. Awan-awan

* Tipe huruf : 1. Serif
2. San serif

KONTEKS :
* Budaya yang mempengaruhi : Cina terlihat dari ornamen

COMMENT :
Sagu adalah butiran atau tepung yang diperoleh dari teras batang pohon sagu atau rumbia. Sagu dapat dimakan dalam bentuk papeda, semacam bubur. Sagu sendiri dijual sebagai tepung curah maupun yang dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang. Selain itu, saat ini sagu juga diolah menjadi mi dan mutiara.

Nah, sagu Mutiara itu sendiri merupakan produk dari tepung sagu yang dibentuk menjadi butiran2 kecil, yang biasa dipakai untuk bubur dan pelengkap aneka minuman.

Menurut kami, layout dari design sagu mutiara ini menggambarkan tentang konsep kebebasan dan kesegaran yang diilustrasikan dalam bentuk icon kuda zebra, awan-awan dan juga penggunaan dari warna biru. Hal itu sesuai dengan betapa banyaknya variasi mekanan yang bisa dibuat oleh sagu mutiara ini.

Kuda Zebra yang sedang berlari dipakai sebagai ilustrasi yang mewakili sagu mutiara ini karena Zebra merupakan hewan unik, belang-belang pada tubuh zebra dapat membantu sistem pertahanan zebra terhadap predator. Belang zebra dapat membingungkan predator. Para ilmuwan berpendapat bahwa belang pada zebra terjadi karena evolusi, baik variasi maupun seleksi alam.(menurut wikipedia) karena itu untuk membedakan sagu mutiara ini dari sagu mutiara lainnya karena keunikkannya (seperti kuda zebra) maka penggunaan icon zebra sangat cocok, selain itu kuda juga dikenal sebagai hewan yang kuat dengan maksud hidden agar perusahaan ini tetap kuat bertahan seperti halnya kuda. Penggunaan warna biru dan merah merupakan percampuran budaya barat seperti terinspirasi revolusi industri. Berikut ini beberapa persamaan dengan poster gaya barat.

Jamu Jawa Dipa "Sarimurni Asli" Cap GatutKoco





















KATEGORISASI :
* Jenis Rancangan :
--Kemasan : Kertas
* Jenis Produk :
--Pangan : Jamu

PRODUK :
* Nama Produk : Jamu Jawa Dipa "Sarimurni Asli"

VISUAL :
* Dimensi (milimeter) :
--Lebar : 103
--Panjang/tinggi : 158

* Warna :
-- Spot :
1. Kuning
2. Merah
3. Biru
4. Hijau

* Teknik Produksi : Cetak Offset

* Material : Kertas (HVS)

* Visual yang tampak :
1. Gatot Kaca
2. Daun-daunan
3. Anggur
4. ukir-ukiran

KONTEKS :
* Budaya yang mempengaruhi :
a. Cina terlihat dari ornamen dan warna
b. Indonesia terlihat dari icon Gatot Kaca

COMMENT :
Jamu sudah dikenal sudah berabad-abad di Indonesia yang mana pertama kali jamu dikenal dalam lingkungan Istana atau keraton yaitu Kesultanan di Djogjakarta dan Kasunanan di Surakarta.

Jaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak diperbolehkan keluar dari keraton. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, orang-orang lingkungan keraton sendiri yang sudah modern, mereka mulai mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat diluar keraton sehingga jamu bisa berkembang sampai saat ini.

Bagi masyarakat Indonesia, Jamu adalah resep turun temurun dari leluhurnya agar dapat dipertahankan dan dikembangkan. Leluhur kita menggunakan resep yang terbuat dari daun, akar dan umbi-umbian untuk mendapatkan kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit, serta persiapan-persiapan lain yang menyediakan perawatan kecantikan muka dan tubuh yang lengkap. Campuran tanaman obat traditional ini di kenal sebagai JAMU.

Salah satunya adalah jamu tradisional ini, ini adalah jamu yang digunakan untuk obat penyakit ringan yang diprioritaskan bagi para pekerja berat ntuk mengembalikan stamina tubuh,, sesuai dengan icon yang ditampilkan yaitu Gatutkoco atau Gatotkaca.

Lambang Gatotkaca yang diambil dari budaya pewayangan Jawa adalah tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putra bima (Werkodara) dan hidimbi. Karena menurun dari wujud ibunya, maka separuh badannya merupakan raksasa yang mana hal ini banyak memberi kesaktian dan membuat dirinya menjadi seorang ksatria penting di medan Kuru (medan perang) pada saat terjadinya Bharatayuddha. Gatotkaca memiliki kesaktian yang sanggup terbang dan mempunyai "otot kawat baja dan tulang besi".(http://id.wikipedia.org/wiki/Gatotkaca).

Tokoh cerita wayang yang identik dengan kekuatan dan keperkasaannya. Seolah ingin menyampaikan bahwa jamu ini dapat membuat orang yang meminumnya menjadi kuat seperti Gatutkoco. Jamu ini memakai icon gatotkaca untuk melambangkan kekuatan dari produk tersebut.

Menurut kami penggunaan icon Gatot Kaca pada kemasan, sangat menunjukkan sekali tentang kebudayaan Indonesia yang juga menunjukkan bahwa jamu ini adalah buatan asli dari bangsa Indonesia.

Ornamen-ornamen di belakang icon utama adalah tumbuh-tumbuhan obat seperti jahe, cengkeh, ginseng, dan sebagainya yang sepertinya adalah bahan baku atau ramuan untuk membuat jamu tesebut.

Desain kemasan jamu ini bernuansa Jawa secara keseluruhan, baik dari gambar tokoh Gatutkoco nya sendiri, dengan membawa sebilah keris dan berselendang batik maupun ejaan merk “Gatutkoco”. Namun bila dicermati maka akan terlihat bahwa kemasan ini juga memiliki pengaruh budaya Eropa yang terlihat dari bentuk pita yang menjadi background merk. Dan juga sedikit ada pengaruh budaya India yang masuk melalui bentuk candi Hindu di belakang Gatutkoco. Kemasan ini tidak terlalu lengkap dalam mencantumkan info produk.

Rabu, 22 Agustus 2007

Tugas TD











1. Wenter Tjap Kumbo Karno













2. Sagu Mutiara Cap Kuda Zebra










3. Cap Bunga Anggrek













4. Cigaret Papier Tjap Kutjing










5. Cap Harimau














6. Obat Turun Panas Cap Kapal Udara











7. Jamu Jawa Dipa Sarimurni Asli












8. Kertas Sigaret Sinden













9. Kertas Sigaret Tjap Kupu













10. Kerupuk Ikan Cap Bajing